GENOSIDA RAKYAT BANDA
RAYUAN PULAU BANDA
sumber : http://donang-wahyu.blogspot.com
DARI BANDA INDONESIA BERMULA
Sebanyak 21 kapal layar dari sejumlah negara berlabuh di Banda, Maluku Tengah, Selasa (27/7), dalam rangka reli kapal layar Sail Banda. Sudah lama Banda menyita perhatian dunia. Sekadar bukti, Mick Jagger, vokalis Rolling Stones, serta Lady Diana dan Sarah Ferguson pernah datang untuk memuja panorama alam setempat.
![]() | |
| Peta Kepulawan Banda (banda-naira.blogspot.com) |
Paradise Island Banda Naira
"Bangsa Portugis yang tiba di Banda 1611 mengira merekalah yang pertama kali menemukan Spice Island (Pulau Rempah). Ternyata bangsa Moro telah berdagang di Banda selama 100 tahun yang lalu. Seperti halnya orang Portugis, ketika bangsa Morobpertama kalinya menginjakkan kakinya di Banda, mereka mengira merekalah yang pertama tiba di pulau ini. Dari dialog dengan orang-orang Cina di Banda, ternyata orang Cina telah berdagang di Banda 600 tahun sebelumnya. Itu berarti sejak awal abad ke sepuluh Banda Naira telah menarik bangsa-bangsa di dunia untuk berkompetisi, di mana buah pala (Myristica fragrans) sebagai komoditas utamanya sudah dikenal sejak masa Romawi."Kutipan pendek dari buku "Sejarah Banda Naira" oleh Des Alwi-tokoh kelahiran Banda Naira sekaligus saksi sejarah-adalah referensi yang baik sejarah pulau-pulau di tenggara Ambon ini. Akan sangat lebih baik bila anda datang langsung karena Banda Naira memang layak dikunjungi. Sejarah bangsa banyak terukir di sana, keindahan alamnya tidak cukup dikatakan indah tetapi megagumkan.
Bangsa-bangsa lain di dunia mengenal pulau-pulau di Maluku sebagai Spice Islands atau Pulau Rempah karena menjadi pemasok utama pala, bunga pala dan cengkih di dunia. Sejak abad ke-15 dan empat abad lamanya Portugis,Inggris dan Belanda bergantian saling berperang menguasainya.
Gugusan kepulauan Banda Naira di Maluku terbentang di Laut Banda, terdiri dari Naira, Banda Besar, Gunung Api, Ai, Run, Hatta (Rosengain), Sjahrir (Pulau Pisang), Nailaka, Manukang (Pulau Suanggi) dan Pulau Karaka. Tiga yang disebut terakhir tidak berpenduduk.
"Banda Underwater Photo Rally Competition 2010"
Ikan Mandarin (Synchiropus splendidus) yang merupakan spesies langka menjadi target fotografer dalam dan luar negeri yang mengikuti lomba foto bawah laut "Banda Underwater Photo Rally Competition 2010"."Saya benar-benar penasaran ingin mengabadikan mandarin fish yang terkenal di dunia dna menjadi ikon pariwisata dunia saat ini," ujar fotografer Aida Kurnia Fitri di Banda Naira, Rabu.
Fotografer Ambon Juarai Lomba Foto Bawah Laut Banda
Susanto berhasil meraih nilai tertinggi dari enam foto yang diikutkan untuk dinilai para juri dengan kriteria meliputi human and sea, animal behavior, macro, mandarin fish, reefscape serta sea life and Sky.
Pada lomba yang merupakan rangkaian dari kegiatan pelayaran internasional "Sail Banda 2010" itu, masing-masing fotografer diberikan kesempatan memasukan enam karya foto saat melakukan penyelaman di Pulau Hatta, Pulau Run, Pulau Ay, "Lava Flow Gunung Api Banda dan Pelabuhan Banda Naira yang dikenal dengan julukan "Mandarin City".
Dewan juri yang terdiri dari Mayjen TNI M. Noer Muis (Pangdam I/Bukit Barisan), Christoffel Simanjuntak (underwater photographer) dan Edy Purnomo (photojournalist) memberikan nilai tertinggi bagi enam hasil karya Susanto yang disertakan dalam lomba.
Selain meraih gelar juara pertama, foto karya Harry Susanto yang termasuk kategori Human and Sea yang memperlihatkan seorang penyelam sedang menyelam diatas terumbu karang raksasa di lokasi penyelaman "Lava Flow" Gunung Api Banda juga dipilih oleh dewan juri sebagai foto terbaik `Banda Underwater Photo Rally Competition 2010`.
Sedangkan juara II lomba foto bawah air yang untuk kedua kalinya digelar setelah tahun 2009 lalu, diraih fotografer Dona Paramitha dari Jakarta dan juara III diraih fotografer Johan Wijaya dari Medan-Sumatera Utara.
Harry Susanto selai memperoleh trophy, piagam penghargaan serta bonus berupa satu unit BCD Halcyon Infinity, paket menyelam empat hari tiga malam untuk satu orang dari Maluku Divers-Ambon, serta discount voucher untuk produk-produk Ikelite dan Sea & Sea dari Divemaster Indonesia.
Sedangkan untuk gelar foto terbaik, Harry Susanto juga memperoleh trophy, piagam penghargaan serta bonus berupa paket menyelam empat hari untuk satu orang (delapan kali dive) di NAD Lembeh Dive Resort-Manado.
Sedangkan Dona Paramitha memperoleh trophy, piagam penghargaan dan bonus voucher menginap dua malam termasuk breakfast untuk dua orang di SILQ Private Residences-Bali, makan malam untuk dua orang di Beduur Restaurant, Ubud Hanging Gardens-Bali, voucher arung jeram untuk dua orang dengan Club Aqua-Bali dan voucher untuk dua orang dengan Seawalker di Club Aqua, Bali.
Sementara Johan Wijaya yang meraih juara III memperoleh trophy, piagam penghargaan serta bonus berupa paket menyelam full-board di Bunaken selama empat hari tiga malam untuk dua orang dari La Rascasse Dive Resort-Manado dan dua paket DAN membership.
Pemrakarsa "Banda Underwater Photo Rally Competition 201" Mayjen TNI. M Noer Muis saat penyerahan hadiah mengatakan, lomba foto bawah laut itu tidak hanya diikuti fotografer senior tetapi lebih banyak yunior, di samping sebagian fotografer lainnyua hanya turut serta untuk melakukan penyelaman.
"Selama kompetisi berlangsung para peserta sangat terpesona dengan keindahan bawah laut Kepulauan Banda, dimana dampaknya juri harus melakukan seleksi ketat untuk menentukan pemenangnya.
Muis yang saat ini menjadi Pangdam I/Bukit Barisan menambahkan, hasil foto terbaik dari "Banda Underwater Photo Rally Competition 2010" akan dimuat dalam buku "Menyusuri Kepulauan Banda" yang saat ini sedang disusun.
Noer Muis berharap event ini dapat dilakukan secara rutin, sehingga semakin banyak fotografer dalam dan luar negeri tertarik untuk berkunjung ke Banda, untuk mengabadikan keindahan alam bawah laut Pulau Banda maupun menyaksikan potensi wisata alam, sejarah dan kebudayaan menjadi semakin terkenal ke dunia luar.
Ia pun mengimbau masyarakat di Pulau Banda untuk menjaga kelestarian laut dan lingkungannya agar tidak dirusaki, terutama menggunakan bom maupun potasium sianida, sehingga tetap terpelihara untuk kesejahteraan di masa mendatang. (JA/K004)
Kepulauan Banda Neira yang berada di provinsi Maluku ini dikenal memiliki obyek I bawah laut yang menakjubkan. Kepulauan ini tak lagi asing bagi penggemar wisata bahari, terutama mereka yang hobi menyelam dan snorkling. Daya tarik utama kepulauan ini adalah keindahan taman laut beserta keanekaragaman fauna dan flora yang hidup di dalamnya.
NERACA - Kepulauan Banda Neira juga memiliki berbagai lokasi wisata darat yang tak kalah memukau, terutama obyek wisata sejarah. Berbagai bangunan tua sisa peninggalan masa penjajahan Portugis dan Belanda masih kokoh dan terawat dengan baik.

Menyusun jalanan di Banda Naira, seolah membawa ana pada awal tahun 1900-an dengan jalanan kotanya yang relatif sempit dan sepi dari lalu lalang kendaraan roda empat. Sempitnya jalanan kota yang hanya memiliki lebar sekitar empat meter ditambah teduhnya pepohonan besar di beberapa bagian jalan membuat suasana kota kecil yang asri di awal abad XX masih terasa.
Permukiman padat yang menandakan perubahan zaman terletak di daerah-daerah baru maupun tempat yang sejak dulu terkenal sebagai pusat kegiatan ekonomi, seperti Kampung China dan Kampung Baru. Di tempat itulah berdiri pasar, sekolah maupun perumahan warga lainnya. Bangunan cagar budaya umumnya terletak di Kampung Ratu yang berpusat di sekitar Benteng Belgica dan Istana Mini. Di sekitar tempat tersebut masih banyak berdiri rumah-rumah kuno yang besar.
Salah satu bangunan tua yang terawat baik adalah Kantor Polisi Sektor Pulau-pulau Banda. Meskipun namanya kantor polisi, bangunannya sama sekali tidak menunjukkan seperti umumnya kantor polisi. Arsitektur bangunan tetap dipertahankan, hanya warna-warna tulisan yang mencolok membuat gedung tua itu terlihat semarak.
Banda Neira dibangun oleh Portugis pada awal abad XVI, yang kemudian dikembangkan oleh Belanda. Belanda mengembangkan Banda Neira sebagai kota yang bergaya Eropa, seperti pelabuhan, perkebunan pala, permukiman warga Belanda dan kantor pimpinan VOC (Vereenigde Oost Indiesche Companie) pun dibangun dengan gaya arsitektur Belanda.
Banda Neira juga dijadikan sebagai tempat buangan para pejuang kemerdekaan. Selain Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir, tokoh lain yang pernah diasingkan di Banda Naira adalah dr Cipto Mangunkusumo (1928), Iwa Kusumasumantri (1930) serta sejumlah anggota Sjarikat Islam (Sl) yang dibuang sebagai hukuman karena melakukan pemberontakan.
Rumah-rumah yang dijadikan tempat pengasingan para tokoh-tokoh tersebut masih terawat dengan baik. Demikian pula dengan berbagai perabotan rumah tangga, peralatan kerja dan foto-foto tua. Meskipun rumah-rumah yang pernah ditinggali para pejuang tersebut dihuni oleh orang lain, anda bisa bebas menikmati dan melihat-lihat peninggalan yang ada.

Di rumah Bung Hatta yang sudah dipugar pada tahun 1981-1983, anda bisa mengikuti jejak perjalanan Buang Hatta selama diasingkan di Banda Naira antara tahun 1936 dan 1942. Benda-benda yang pernah digunakan Bung Hatta, seperti pakaian, kopiah, kacamata, mesin ketik tempo dulu, hingga perlengkapan rumah tangga, seperti kursi tamu, lemari makan, dan tempat tidur masih tertata rapi, demikian juga foto-foto Bung Hatta dan keluarga, terpampang rapi di setiap ruangan rumah.
Pada bagian belakang rumah terdapat bangku-bangku sekolah yang digunakan Bung Hatta untuk mengajari anak-anak Banda dalam hal tulis-menulis, memba-
ca, aritmatika dan bahasa Inggris. Semua pelajaran diajarkan dalam bahasa Belanda. Di dekat lokasi bangku sekolah tersebut terdapat sebuah gentong besar yang digunakan Bung Hatta untuk menampung air hujan sebagai sumber air minum.
Kondisi serupa juga terdapat di rumah tempat pengasingan Sutan Sjahrir dan dr Cipto Mangunkusumo. Sejumlah barang peninggalan mereka selama diasingkan di Banda Naira masih terawat dan tertata baik. Bentuk dan arsitektur asli bagunan tetap dipertahankan dan menjadi daya tarik tersendiri. Jendela-jendela rumah yang berukuran besar, tiang-tiang penyangga rumah berbentuk bulat dan langit-langit rumah yang tinggi memberikan kesan rumah yang kokoh dan megah.
Tak jauh dari rumah dr Cipto Mangunkusumo, terdapat Istana Mini. Pada abad XVIII Istana Mini tersebut dijadikan tempat tinggal dan kantor Gubernur VOC Kini istana tersebut kosong melompong, setelah penghuninya yang terakhir, yaitu Camat Banda, pindah ke rumah dinas yang baru.
Di gedung besar ini, sejumlah guratan sejarah masih membekas dan dibiarkan apa adanya, seperti lubang bekas tembakan meriam dan surat seorang tentara Portugis. Lubang tembakan meriam dengan kedalaman puluhan sentimeter itu berasal dari tembakan meriam dari arah Teluk Banda dan terletak pada dinding belakang ruang utama. Sedangkan surat seorang tentara Portugis sebelum mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di gedung tersebut diguratkan pada kaca jendela depan sebelah kanan gedung.

Di samping kanan Istana Mini terdapat sebuah baileo atau ruang pertemuan yang biasa dipergunakan masyarakat Banda untuk mengadakan rapat atau tempat menyambut tamu penting. Semasa penjajahan Belanda, gedung tersebut dikenal dengan sebutan Gedung Societeit yang digunakan oleh orang-orang Belanda pemilik perkebunan sebagai klub untuk minum-minum dan bermain bridge.
Benteng Belgica adalah bangunan bersejarah lain di Banda. Benteng berbentuk segi lima ini terletak di atas perbukitan barat daya Pulau Banda. Pada setiap sisi benteng terdapat sebuah menara. Untuk menuju puncak menara tersedia tangga dengan posisi nyaris tegak dan lubang keluar yang sempit.Dari puncak menara,anda bisa
menikmati panorama sebagian daerah Kepulauan Banda, mulai dari birunya perairan Teluk Banda, puncak Gunung Api yang menjulang, sampai rimbunnya pohon pala di Pulau Banda Besar.Benteng Belgica merupakan benteng peninggalan Portugis yang dibangun pada tahun 1602 hingga tahun 1611. Di bagian tengah benteng terdapat sebuah ruang terbuka luas untuk para tahanan. Di tengah ruang terbuka tersebut terdapat dua buah sumur rahasia yang konon menghubungkan benteng dengan pelabuhan dan Benteng Nassau yang berada di tepi pantai.
Untuk menikmati berbagai obyek wisata di Banda, anda dapat melakukannya sendiri maupun mengikuti paket-paket wisata yang ditawarkan oleh pengusaha hotel maupun penginapan. Sebagian besar paket yang disediakan berupa paket menyelam ataupun snorkling. Selain itu, terdapat kegiatan agrowisata ke kebun pala maupun mendaki Gunung Api. lir/dbs
Entitas terkaitArsitektur | Banda | Bangunan | Belanda | Benteng | Bentuk | Bung | Camat | Cipto | Daya | Gunung | Istana | Kampung | Kepulauan | Kondisi | Lubang | Maluku | Menyusun | NERACA | Permukiman | Portugis | Pulau | Sebagian | Semasa | Sempitnya | Sutan | Teluk | VOC | XX | Banda Naira | Banda Neira | Benteng Belgica | Benteng Nassau | Buang Hatta | Bung Hatta | Cipto Mangunkusumo | Gedung Societeit | Gunung Api | Istana Mini | Iwa Kusumasumantri | Kampung China | Kampung Ratu | Pulau Banda | Sjarikat Islam | Sutan Sjahrir | Teluk Banda | Gubernur VOC Kini | Kantor Polisi Sektor | Kepulauan Banda Neira | Nikmati Beningnya Laut | Selain Mohammad Hatta | Vereenigde Oost Indiesche | XVIII Istana Mini |
Ringkasan Artikel Ini
Selain Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir, tokoh lain yang pernah diasingkan di Banda Naira adalah dr Cipto Mangunkusumo (1928), Iwa Kusumasumantri (1930) serta sejumlah anggota Sjarikat Islam (Sl) yang dibuang sebagai hukuman karena melakukan pemberontakan. Di rumah Bung Hatta yang sudah dipugar pada tahun 1981-1983, anda bisa mengikuti jejak perjalanan Buang Hatta selama diasingkan di Banda Naira antara tahun 1936 dan 1942. Jendela-jendela rumah yang berukuran besar, tiang-tiang penyangga rumah berbentuk bulat dan langit-langit rumah yang tinggi memberikan kesan rumah yang kokoh dan megah. Pada abad XVIII Istana Mini tersebut dijadikan tempat tinggal dan kantor Gubernur VOC Kini istana tersebut kosong melompong, setelah penghuninya yang terakhir, yaitu Camat Banda, pindah ke rumah dinas yang baru. Dari puncak menara, anda bisa menikmati panorama sebagian daerah Kepulauan Banda, mulai dari birunya perairan Teluk Banda, puncak Gunung Api yang menjulang, sampai rimbunnya pohon pala di Pulau Banda Besar.Benteng Belgica merupakan benteng peninggalan Portugis yang dibangun pada tahun 1602 hingga tahun 1611. Di tengah ruang terbuka tersebut terdapat dua buah sumur rahasia yang konon menghubungkan benteng dengan pelabuhan dan Benteng Nassau yang berada di tepi pantai.
SENSASI SURGA BAWAH LAUT BANDA NAIRA

SENSASI SURGA BAWAH LAUT BANDA NAIRA
Kepulauan Banda bukan saja dikenal memiliki kota tua abad XVIII dan XIX yang masih terawat baik serta banyak peninggalan sejarah seperti benteng kolonial dan rumah pejuang Indonesia yang pernah dibuang ke daerah itu seperti Mohammad Hatta dan Sutan Sjahril, tetapi Banda juga dikenal sebagai tempat yang memiliki banyak obyek wisata bawah laut yang menakjubkan. Bukan saja di Indonesia, tetapi juga dunia internasional.
Kepulauan yang berada di tengah-tengah luasnya laut terdalam di Indonesia itu tak lagi asing bagi penggemar wisata bahari, terutama mereka yang hobi diving dan snorkeling. Daya tarik utama kepulauan ini adalah keindahan taman laut beserta keanekaragaman fauna dan flora yang hidup didalamnya.
Kepulauan Banda berada di tepian palung paling dalam di Indonesia yakni laut Banda. Di sekitar pulau Manuk misalnya, kedalaman airnya mencapai 6.500 meter. Panorama taman laut di kawasan ini tak usah diragukan lagi keindahannya. Hampir setiap pulau di gugusan kepulauan Banda dikelilingi taman laut yang kaya dengan koral warna-warni dan beragam jenis ikan seperti di sekitar pulau Naira, pulau Gunung Api, pulau Lonthor, pulau Ai, pulau Sjahrir dan pulau Hatta.
Menurut tokoh masyarakat Banda, Des Alwi, terdapat 52 lokasi diving dan snorkeling di laut Banda, namun baru 32 yang diperkenalkan kepada penikmat olaraga bawah laut ini. “Ada 52 dive side tapi saya cuma lepas (perkenalkan) 32 lokasi taman laut untuk diving dan snorkeling,” kata Des Alwi kepada pers di Banda Naira, belum lama ini.
Taman laut Banda yang pernah digelar ivent diving internasional pada tahun 1991 dan 1995, masih terdapat ikan Napoleon yang kini termasuk jenis ikan paling langka di dunia. Mandarin Fish yang juga paling dicari penyelam internasional karena keindahan sisiknya, dapat dijumpai dengan mudah di laut Banda. Menurut Des Alwi, adanya ikan Napoleon menandakan kualtas air di laut Banda masih baik sekali.
“Ikan Napoleon nyaris habis di mana-mana karena diburu atau karena laut yang kotor. Di banda, masih mudah kita jumpai ikan Napoleon, ada juga ikan Mandarin dan jenis ikan lainnya. Ini membuktikan kalau laut kami serta karang-karangnya masih bagus,” ujarnya bangga.
Menurut Des Alwi, kedalaman laut Banda membuat microbiologi yang hidup di laut ini sangat berbeda dengan kehidupan microbiologi di laut lainnya di Indonesia. Microbiologi di laut Banda menjadi nutrisi utama pembentuk karang dan biota laut lainnya. Karena itu pula, kehidupan dan pertumbuhan koral di salah satu lokasi diving yang pernah dihancurkan oleh lahar Gunung Api Banda yang meletus tahun 1989 misalnya, kini tumbuh dengan sangat cepat sekali, mematahkan rasionalisasi para ahli.
“Kalau teorinya, setelah hancur oleh lahar gunung api maka karang akan tumbuh lagi sekitar 75 tahun setelahnya, tetapi di Banda berbeda. Baru sekitar sepuluh tahun sudah tumbuh karang-karang berbagai jenis dan tumbuhnya begitu rapat,” katanya.
Pada tahun 2001 dan 2002, the Conservancy melakukan Kajian Ekologis di Kepulauan Banda, tujuannya untuk mengumpulkan informasi mengenai sumberdaya lautnya. Penelitian awal saat itu menunjukkan bahwa terumbu karang di Banda memiliki keragaman hayati yang luar biasa, dengan adanya 310 jenis karang pembentuk terumbu, sekitar 871 spesies ikan, serta populasi hiu dan kerapu yang sangat tinggi. Kepulauan Banda kemudian diajukan sebagai Kawasan Warisan Dunia.
Karena keindahan karang dan biota lautnya, laut Banda pada tiga tahun lalu dipilih menjadi Kawasan Warisan Dunia untuk surga bawah laut di Indonesia, mengalahkan taman laut di kepulauan Raja Ampat (Papua Barat), Bunaken (Sulawesi Utara), Wakatobe (Sulawesi Tenggara) dan Berau (Kalimantan Timur).
Pangdam XVI Pattimura Mayjen TNI M. Noer Muis yang kini memimpin Tim Diving Maluku melakukan observasi ke sejumlah lokasi diving di Maluku mengakui keindahan taman laut Banda. “Saya sudah menyelam di mana-mana seperti di Bunaken, kepulauan Seribu (Jakarta) atau di Bali, tapi taman laut di Banda jauh lebih indah,” kata Muis.
Meskipun baru melakukan diving di tiga dive side, namun sensasi keindahan bawah laut Banda membuat Muis terkagum-kagum. Ia bahkan menganalogikan taman laut di pesisir pulau Gunung Api yang merupakan bekas tumpahan lahar panas vulkano sebagai taman golf yang indah di bawah laut.
“Terumbu karang di daerah lahar tumbuh dengan waktu relatif singkat yakni hanya sepuluh tahun sudah tumbuh bagus dan bentangannya cukup luas, bahkan terlihat tidak ada dasar yang tidak ditumbuhi oleh karang meja, ini luar biasa. Di spot lainnya juga, baik terumbu karang maupun jenis ikannya indah sekali,” ujarnya.
Menurut Muis, keindahan panorama bawah laut Maluku tidak boleh dibiarkan tidur terlalu lama, tapi harus dikenalkan secara luas. Ia bahkan bertekad untuk mempromosikan Maluku, khususnya keindahan taman laut ke mancanegara.
“Saat ini saya bersama Tim Divers Maluku akan mencoba mengangkat potensi bahari Maluku dengan mendokumentasinya untuk dikenalkan ke mancannegara, khususnya menjadikan WOC (World Ocean Confrencce) di Manado untuk forum promosinya,” kata Muis.
Selain taman laut Banda, taman laut di kepulauan Lucipara juga menjadi andalan Maluku. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Maluku, Florence Sahusilawane mengatakan, Provinsi Maluku akan mempromosikan keindahan panorama alam bawah laut Banda dan kepulauan Lucipara dalam WOC di Manado pada tanggal 11-15 Mei 2009. Kegiatan WOC yang diikuti sekitar 120 negara itu, dinilainya sangat strategis untuk menjual potensi wisata bahari laut Maluku yang eksotis dan masih natural.
“Kondisi taman laut kami masih asri karena belum tersentuh kegiatan pembangunan sehingga sangat cocok untuk wisata selam, mancing, mandi sinar matahari atau wisata berpetualang,” ujarnya.
Gugusan kepulauan Lucipara yang masih berada di perairan laut Banda memiliki tujuh pulau tak berpenghuni. Selain dilingkari pasir putih untuk habitat penyu bertelur, terdapat panorama bawah laut yang menakjubkan karena keindahan bunga karang yang penuh warna. Jarak Lucipara dari Ambon sekitar 120 kilometer, dapat ditempuh dengan kapal laut berkecepatan 18 knot dalam waktu lima jam.
banda-naira.blogspot.com
IKAN BATIK BERWAJAH MANUSIA DI LAUT BANDA
Label: SurgaKu LautKu
Satu lagi bukti kekayaan laut kita (Indonesia).
Ikan ini merupakan spesies baru, bila dilihat sekilas hampir mirip dengan ikan kerapu.
Yang lebih berciri khas Indonesia, ikan ini mempunyai motif lurik seperti batik di sekujur tubuhnya.

Yang tak kalah menarik dari penampilan ikan ini adalah mukanya yang datar dan mata menonjol sehingga sekilas mirip manusia. Apalagi dengan mulut yang lebar, sesekali terlihat seperti seseorang yang tersenyum.
Ikan unik dari perairan Ambon dengan bentuk tubuh yang bulat seperti kodok dan bermotif batik ini ditahbiskan sebagai spesies baru. Hasil pemeriksaan DNA menunjukkan bahwa ikan tersebut berbeda dengan semua jenis ikan yang ada.
Keberadaannya pertama kali ditemukan seorang instruktur selam yang bekerja pada sebuah operator wisata setahun lalu di perairan dangkal sekitar Pulau Ambon dan banda. Penemuan tersebut langsung dilaporkan kepada Ted Petsch, pakar ikan dari Universitas Washington untuk dipelajari.
"Seperti ikan kodok lainnya, ia punya sirip pada kedua sisi tubuhnya dan tumbuh seperti kaki. Namun, perilakunya belum pernah terlihat pada ikan sejenis lainnya," ujar Pietsch. Misalnya, ikan yang bertubuh bulat tersebut terlihat sesekali memantulkan diri di dasar laut seperti sebuah bola karet yang bergerak tak beraturan.
Pietsch kemudian memberinya nama spesies psychedelica sesuai gambaran penampilan dan perilakunya. Ikan tersebut masuk dalam genus Histiophryne sehingga nama ilmiahnya Histiophryne psychedelica.
"Saya pikir orang telah begitu mengenal ikan kodok dan menemukan satu ekor yang baru seperti ini sungguh terdengar spektakuler, " ujar Mark Erdman, penasihat senior program kelautan Conservation International. Ia mengatakan penemuan tersebut juga menunjukkan bahwa keanekaragaman spesies di kawasan habitat yang masuk dalam Segitiga Koral tersebut mungkin masih banyak yang belum terungkap.
Tubuhnya yang sebesar kepalan tangan orang dewasa dilindungi kulit berlipat yang keras sehingga tahan dari gesekan terumbu karang.
Label: SurgaKu LautKu
IKAN PURBA LAUT BANDA DITEMUKAN di jepang
Ekor ikan hiu purba langka yang biasanya hidup di laut dalam berhasil ditangkap hidup-hidup dilepas pantai Jepang (21/1). Hiu betina jenis Chlamydoselachus Anguineus itu memiliki panjang 1,6 meter dengan 25 baris gigi tajam dan biasanya hidup di kedalaman 600-1000 meter di bawah permukaan laut.
Hiu itu ditangkap oleh staf dari Awashima Marine Park di Shizuoka, di selatan Tokyo, Jepang setelah seorang nelayan dari pelabuhan di dekat taman laut itu melaporkan bahwa ia melihat seekor belut raksasa dengan mulut bergigi tajam. Para ahli dari taman laut itu menduga hiu itu sedang sakit sehingga berenang naik ke permukaan laut.
Chlamydoselachus Anguineus sering juga dijuluki sebagai 'fosil hidup' karena merupakan spesies primitif yang memiliki banyak persamaan dengan fosil-fosil hiu dari 350 juta tahun lalu.
Hiu jenis ini pernah juga ditemukan terjerat di jaring kapal penangkap ikan di perairan Atlantik dan Pasifik, namun tidak pernah ada yang ditemukan hidup-hidup.
Hiu langka tersebut mati beberapa jam setelah dipindahkan ke kolam air asin, namun staf taman laut berhasil mengabadikannya melalui foto dan rekaman video.
Label: SurgaKu LautKu
Banda Sea Biodiversity Cruise
Overview
This 16-day expedition aboard the Pindito covers an astonishing 1100 nautical miles across the Banda Sea from Sorong to Maumere. Few liveaboards dare to offer itineraries of this duration or distance, and none with as much experience as Pindito.
We call this trip a biodiver
sity cruise for good reason: it reaches almost a dozen distinct regions that could each be the focus of an entire expedition! There is muck diving at Banda Neira, mandarinfish at Maumere, and teeming sea snakes at Gunung Api. But that's just the tip of the iceberg! This expedition transits the absolute epicenter of marine biodiversity in Raja Ampat.
To put in perspective how rare an opportunity this trip is, consider that Pindito offers only two per year, and they are completely booked for at least the next 2 years. You simply cannot find this experience anywhere else!
Tentative Itinerary
Due to the unique nature of this rare journey, it does not have a regularly-scheduled itinerary. Instead, the crew of Pindito, in association with ReefNet, will be customizing a route that lets us explore the most spectacular sites of the Banda Sea as we travel from Sorong to Maumere.
Although the precise itinerary is not yet defined, the following areas are included:
- Sorong - if time and circumstances allow, explore a World War II airplane wreck
- Mansur - expect to see large schools of snapper and mackerel, barracuda, mantas, batfish and sharks at this gem in Raja Ampat
- Misool - the quintessential tropical paradise...limestone pinnacles jutting out of the water, draped in vegetation and surrounded by reefs overflowing with marine life
- Pulau Koon - strong currents bring dolphins, mantas, sharks, mobulas and more to this deep ocean channel
- Manuk, Gunung Api - "island of the sea snakes"...see dozens of sea snakes on a single dive, sometimes hunting in packs!
- Seroea - a volcanic island rising deep out of the Banda Sea, in complete isolation
- Terbang Islands - dived only by Pindito since 2003, the reefs here are absolutely untouched
- Ramong - volcanic underwater terrain covered in soft corals, sponges and sea fans...excellent as a night dive
- Wetar - regular sightings of dolphins, whales and other pelagics along pristine drop-offs and reefs
- Alor - both drift diving along walls and leisurely macro-centric sites
- Kawula, Pantar - blue water with drop-offs, excellent night dives, and a visit to a local village
- Maumere - muck diving, with a focus on pipefishes, seahorses, frogfishes, nudibranchs, etc.
The price of the Banda Sea Biodiversity Cruise is $5800 per person. There is a strict maximum of 16 participants (including ReefNet staff) permitted on this expedition.
If you have any questions, or to reserve one or more spaces on this expedition, please contact us. Reservations are made on a first-come, first-served basis, and a deposit is required to secure your space(s). For more details, refer to our Terms & Conditions.
Inclusions & Exclusions
The price of this expedition includes:
- Diving, including unlimited FREE NITROX is included for all participants
- Meals, snacks, and drinks including beer (wine and cocktails extra)
- Accommodations (double-share cabin)
- Scheduled land excursions
- Airport transfers
Not included:
- Connecting airfare and hotel stays (see below for our recommended travel booking agent)
- Dive gear rental (other than tanks & weights)
- Fuel surcharge of $350 (subject to change)
- National park fees (per person): Raja Ampat $70, Banda Sea $25, payable on board (subject to change)
- Gratuities
Travel Arrangements
Although expedition participants are welcome to book connecting flights and hotels privately, ReefNet highly recommends the travel booking services of our dedicated partner Reef & Rainforest.
Reef & Rainforest specializes in making travel arrangements to exotic destinations, and can save you a great deal of time, money, and aggravation. Because it's been assisting adventure travellers for more than 13 years, Reef & Rainforest has developed close relationships with many airlines, hotels, and tour operators. Nobody has more in-depth experience in as many regions!
In addition to the expedition itinerary, Reef & Rainforest can also make arrangements for exciting pre- and post-expedition adventures. Want to see wild orangutans? Hike to the top of a volcano? Swim at the base of a secluded waterfall? Just ask!
To make your travel arangements with Reef & Rainforest, contact them directly and tell them you're joining one of ReefNet's Dive Expeditions.
Posted by Saiful Karmen ; Source http://reefnet.ca
bari bawah laut banda
Label: SurgaKu LautKu
Dari bawah laut bandabanda-naira.blogspot.com posted by Saiful Karmen
….Jarak dari teras hotel menuju tepi dermaga laguna hanya sekitar 6 meter, dan saya melihat air laut sebening kaca memantulkan refleksi violet, biru dan magenta dari langit pagi ini Sementara di bibir puncak gunung , masih tampak terlihat bongkahan batu dan tanah tanah hitam sisa sisa erupsi beberapa tahun lalu. Benar benar sebuah pemandangan yang indah dan fantastis ! Dikemudian hari , Des Alwi menjelaskan bahwa karena posisi letak hotel yang tak ada duanya di dunia, tepat di depan laguna dan gunung berapi, membuat Hotel Maulana pernah dikategorikan sebagai salah satu dari 50 hotel terbaik di dunia. Sesekali melintas nelayan dengan perahu kecilnya sambil melambaikan tangannya kepada saya di tepi dermaga. Begitu damainya disini, dan tiba tiba saya sadar bahwa begitu kayanya alam negeri Indonesia ini…” Akhirnya balasan yang saya tunggu tiba juga, sebuah surat beramplop coklat yang dikirim oleh Des Alwi sendiri. Agak geli juga saya menerima surat itu,betapa tidak di jaman modern yang serba praktis dimana orang bisa berkomunikasi melalui facsimile atau internet, ia masih saja menggunakan jasa kantor pos untuk menyampaikan jawaban atas keinginan saya berkunjung ke Banda Neira. Sudah sejak lama saya ingin berpetualang di kepulauan eksotik yang pernah didatangi para selebritis dunia seperti Princess of York, Sarah Ferguson sampai Mick Jagger. Rupanya tidak begitu mudah mengatur perjalanan ke Banda, penerbangan dari Ambon hanya dilakukan seminggu sekali dengan pesawat perintis, sementara jadwal kapal Pelni tidak menentu, bisa setiap sepuluh hari atau dua minggu sekali. Pilihan menggunakan pesawat Merpati dari Ambon juga hampir mustahil, mengingat kapasitas penumpang yang hanya 20 orang dengan beban bagasi terbatas, tak mungkin menerima rombongan kami yang walau berjumlah delapan orang, namun masing masing bisa membawa lebih dari 30 kilogram bagasi.
Terutama berisi peralatan menyelam serta perlengkapan kamera video dan photography. Yang melegakan dalam surat itu Des Alwi menyanggupi untuk menyediakan sebuah perahu boat yang akan dicharter untuk membawa kami dari pulau Ambon menuju Banda Neira.. Setelah menempuh penerbangan malam hari dari Jakarta, kami tiba di Ambon pukul 7 pagi dengan perasaan tak sabar untuk bergegas menuju pelabuhan Tuluhatu di teluk Ambon, tempat kapal boat kami bersandar. Memasuki pelabuhan, hati kami semakin berbunga bunga ketika dari kejauhan, terlihat sebuah kapal pesiar besar. Andrias, kawan saya berkata, “ Wah, hebat juga sambutannya, sebuah kapal mewah buat kita “. Ternyata dugaan kami salah, sebuah perahu kayu boat kecil berukuran 2 x 8 meter tepat disebelah kapal pesiar besar itu, yang akan membawa kami menuju ke pulau Banda ! Hati saya agak ciut membayangkan betapa kecilnya benda ini di tengah laut lepas. Apalagi kami akan menyebrangi laut Banda yang terkenal dalam dengan palung palungnya. Namun melihat Nus, Dive guide kami dari Maluku Divers serta wajah kapten dan anak buah kapal yang tak sedikitpun menyiratkan kekuatiran, membuat kami cukup percaya diri. Bagaimanapun juga ‘ the show must go on ‘, apalagi dalam surat penjelasan Des Alwi mengatakan bahwa bulan bulan baik mengunjungi pulau Banda adalah bulan April – May atau September sampai November, dimana cuaca bersahabat dan laut sangat tenang. Di luar bulan bulan tersebut, musim barat membuat laut Banda menjadi sangat berbahaya untuk diarungi dengan kapal kapal kecil, dan tentu saja ini sudah menjadi pertimbangan mereka dalam mengundang kami di bulan April ini. Perlahan kapal dengan 2 mesin tempel yang masing masing berkekuatan 115 PK mulai mengarungi laut lepas. Kapal ini terasa sangat sempit dengan jumlah rombongan kami dan barang barang muatan, termasuk tabung tabung penyelaman yang dibawa dari Ambon. Benar saja, laut sangat flat dan tenang membuat kami tak begitu merasakan guncangan gelombang. Setelah diselingi makan siang, beberapa teman mencoba mengurangi kebosanan dengan membaca atau mendengarkan musik Ipod, sementara saya tak terasa jatuh tertidur. Sering kali saya terbangun dan tertidur kembali, namun kita masih saja berada di lautan lepas tanpa ada tanda tanda untuk sampai di tujuan. Beberapa teman mulai gelisah, dan kami sudah mulai bosan bertanya kepada kapten kapal, berapa lama lagi kita akan tiba. Setelah 7 jam mengarungi laut lepas, terlihat mulai ada burung burung berterbangan, dan itu artinya sudah dekat dengan daratan. Ternyata tak berapa lama terlihat dikejauhan sebuah sosok samar daratan. bersamaan dengan mulai terbenamnya matahari di ufuk barat. Tepat jam 9 malam, setelah mengarungi hampir 9 jam perjalanan, kapal boat kami merapat di dermaga Maulana Hotel, Banda Neira, milik Des Alwi. Hampir seluruh staff hotel menyambut kami di tepi dermaga yang berbatasan langsung dengan serambi hotel. Raymond, putera bungsu Des Alwi dengan ramahnya menyapa dan langsung mengajak kami makan malam yang sudah dipersiapkan untuk rombongan kami. Segala kelelahan akibat lamanya perjalanan tadi seketika sirna dengan situasi akrab yang ditimbulkan oleh Raymond beserta staffnya. Namun kami tak bisa berlama lama karena harus beristirahat serta menyiapkan perlengkapan selam dan photography buat besok. Pukul 6 pagi saya sudah terbangun, dengan suara suara burung di luar. Bergegas saya keluar untuk melihat dengan seksama bangunan hotel ini. Sebuah bangunan lama bertingkat sederhana model spanyol, dengan sebuah pohon kenari raksasa di depan serambi hotel, tepat menghadap laguna teluk Banda dan diseberangnya berdiri kokoh sebuah gunung berapi setinggi 1000 meter, yang disebut Gunung Api. Jarak dari teras hotel menuju tepi dermaga laguna hanya sekitar 6 meter, dan saya melihat air laut sebening kaca memantulkan refleksi violet, biru dan magenta dari langit pagi ini Sementara di bibir puncak gunung , masih tampak terlihat bongkahan batu dan tanah tanah hitam sisa sisa erupsi beberapa tahun lalu. Benar benar sebuah pemandangan yang indah dan fantastis ! Dikemudian hari , Des Alwi menjelaskan bahwa karena posisi letak hotel yang tak ada duanya di dunia, tepat di depan laguna dan gunung berapi, membuat Hotel Maulana pernah dikategorikan sebagai salah satu dari 50 hotel terbaik di dunia. Sesekali melintas nelayan dengan perahu kecilnya sambil melambaikan tangannya kepada saya di tepi dermaga. Begitu damainya disini, dan tiba tiba saya sadar bahwa begitu kayanya alam negeri Indonesia ini. Hotel Maulana terletak di Naira, di pulau Banda kecil yang pernah menjadi incaran pedagang seluruh dunia abad pertengahan. Kilas balik sejarah menjelaskan ketika armada, conquistador Alfonso de Alburqueque dari Portugis menaklukan Malaka tahun 1511 yang menjadi pusat perdagangan rempah rempah dunia. Ia sudah mempersiapkan ekspedisi besar ke Maluku dan Banda Neira, sebagai pusat produsen rempah rempah dunia. Dengan bantuan penunjuk jalan dari Malaka, armada Portugis bisa mencapai Banda Neira pada tahun 1512 – 1514, sampai akhirnya terusir oleh armada VOC. Berjalan jalan di Banda Neira membangkitkan kenangan akan situasi kehidupan kolonial jaman dahulu. Hampir seluruh rumah rumah atau gedung gedung berarsitektur kolonial terawat dengan baik, dan masih dipakai sampai sekarang. Sudut sudut kota, jalanan serta bangunan yang ada tetap merefleksikan kehidupan yang sama ratusan tahun yang lalu. Masjid yang dipakai oleh Bung Hatta dan Sutan Sjahrir di masa pembuangan mereka di pulau ini, masih terus dipakai oleh masyarakat sana. Demikian pula gedung atau rumah peninggalan kolonial yang kini dipakai menjadi kantor, sekolahan serta hotel hotel kecil disekitar Banda Neira. Hari ini kami memulai petualangan penyelaman di salah satu dive spot terbaik di dunia. Kepulauan Banda memang terkenal dengan keindahan hayati alam bawah lautnya serta terumbu karang yang mempesona. Memang, akibat letusan gunung Api telah merusak sebagian sisi terumbu karang Pulau Banda Besar. Namun menurut penilitian dari UNESCO, akibat fenomena ini justru pertumbuhan terumbu karang di tempat ini paling cepat didunia. Jika di tempat lain, terumbu karang bisa membutuhkan waktu puluhan tahun untuk tumbuh dewasa.
Di Pulau Banda Besar hanya membutuhkan waktu tidak sampai sepuluh tahun. Menyelam di kepulauan Banda memang menakjubkan, clear visibility bisa sampai mencapai 40 meter saat itu membuat pemandangan alam bawah laut bisa terlihat dengan jelas. Hampir seluruh area penyelaman di Pulau Banda Besar,Pulau Ai, Pulau Run, Pulau Hatta dan Pulau Sjarir sampai di dermaga Banda Neira memiliki pesona dan keanekaragaman alam bawah laut yang tak mungkin dilihat di tempat lain di dunia. Mata kami benar benar dimanjakan dengan warna warni terumbu karang dan soft coral yang sehat. Belum lagi dengan ikan ikan yang dengan eloknya berkeliling berdekatan tanpa menghiraukan kehadiran kami. Sesekali sekelompok lumba lumba menemani sambil melompat di sisi kapal boat yang membawa kami menuju titik titik penyelaman di kepulauan Banda. Perjalanan antara titik penyelaman yang satu sama lain, tidak terlalu jauh dan dapat ditempuh antara 30 menit sampai 1,5 jam dengan kapal boat. Istirahat makan siang biasanya kami mencari pantai pantai kosong yang tersebar diseluruh kepulauan, untuk menyantap hidangan rantangan yang kami bawa dari Hotel. Sungguh terasa nikmat duduk menikmati makan siang diatas pasir putih yang lembut sambil menghadap air laut yang jernih. Sesekali kami meminta awak kapal untuk mengambil buah kelapa muda dari pohon pohon kelapa yang ada di tepi pantai. Dalam penyelaman di sekitar Pulau Hatta, kami menemukan hutan sea fans ( seperti kipas cemara ) raksasa yang terhampar di kedalaman 20 meter. Sambil menyetel kamera dan terus mengabadikan tempat ini, tak terasa saya terbawa arus ke kedalaman sekitar 30 meter, dan hampir saja saya menabrak sebuah jelly fish atau ubur ubur raksasa. Secara refleks saya memutar badan dan mulai menjepret dengan kamera Nikon D 70 saya yang dibungkus oleh housing, sebelum mata saya menangkap obyek di kejauhan. Ternyata iring iringan ratusan school of jack fish yang biasa disebut ikan kuwe, yang bergerak elok dalam satu rombongan menuju kedalaman. Petualangan kami memang terasa lengkap, karena setelah menyelam kami masih bisa berjalan jalan keliling Banda Neira. Ketika berkunjung ke museum budaya, kita membayangkan betapa pentingnya pulau ini , karena dicari cari oleh seluruh armada laut negara negara Eropa untuk menemukan pusat rempah rempah dunia. Disini kita bisa melihat catatan sejarah yang ada. Barang barang peninggalan VOC, serta yang menarik adalah lukisan lukisan mengenai situasi jaman tersebut. Tepat di tengah ruang utama museum, tergantung sebuah lukisan raksasa yang menceritakan pembantaian 44 orang terpandang dari Banda. Mereka biasa disebut dengan orang kaya, dan pada masa itu mereka ditawan oleh VOC lalu dibawa ke benteng Fort Nassau. Kemudian di depan anak istri serta keluarganya, semua orang terkemuka di Banda tersebut dibantai secara kejam oleh algojo algojo Samurai yang disewa dari Jepang !. Setelah VOC menancapkan kuku monopoli perdagangan, mereka membangun sebuah peradaban baru di Banda Neira yang nantinya akan merupakan blue print pembangunan kota Batavia kelak. Istana Merdeka di Jakarta yang menjadi tempat tinggal Gubernur Jendral Hindia Belanda,mencontoh replika gedung Istana mini yang masih berdiri di Banda Neira. Demikian pula gereja Immanuel di depan stasiun gambir memiliki arsitektur yang sama dengan gereja di sini yang sayangnya telah dirusak oleh massa pengungsi kerusuhan Ambon beberapa waktu yang lalu. Kalau kita memperhatikan sudut sudut kota tua di Jakarta, akan sama juga dengan komposisi sudut bangunan dan jalanan di sana. Saya membayangkan bahwa tempat ini sangat cocok untuk pembuatan syuting syuting film mengenai era kolonial, karena struktur bangunan dan kotanya yang tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang. Kami juga berkunjung ke Benteng VOC, Fort Belgica yang dibangun diatas sebuah bukit, dan bisa ditempuh hanya setengah jam berjalan kaki dari hotel Maulana. Mengagumkan sekali pemilihan letak posisi benteng tersebut, karena dari puncak benteng kita bisa melihat ke arah laut dari segala sisi pulau. Ini memudahkan VOC untuk mengawasi kapal kapal yang keluar masuk Banda pada masa itu. Rumah rumah yang dahulu ditempati Bung Hatta dan Sutan Sjahrir masih terawat dengan baik, berikut dengan barang barang peninggalan mereka. Dari mesin tik yang mereka pakai saat itu, sampai ruangan kelas di belakang rumah, tempat Bung Hatta mengajar terhadap anak anak Banda, yang salah satunya adalah Des Alwi sendiri. Banda Neira memang tak lepas dari sosok Des Alwi, kini berusia 80 tahun, seorang tokoh nasional yang begitu mencintai dan merawat Banda bagaikan anggota keluarganya sendiri. Sosoknya yang dihormati terlihat dari foto fotonya bersama para pemimpin negara, tokoh dunia, negarawan yang terpasang di dinding hotel Maulana. Ketika akhirnya ia datang menyusul kami di sana, ia sangat bersemangat menceritakan semua yang patut diceritakan tentang Banda. Sepanjang malam, setelah makan malam bersama tamu tamu ‘ bule ‘ lainnya, ia menjadi seorang narasumber mengenai sejarah dan budaya Banda. Di sela sela kegiatan kami disana, sesekali terlihat ia menerima wawancara jurnalis TV dari luar negeri. Tak terasa sudah hampir seminggu kami berada di Banda Neira, menjelajah alam bawah airnya yang mempesona, serta menikmati sisa sisa kehidupan masa silamnya yang eksotis. Selama ini kami benar benar terputus dari dunia luar. Handphone tidak berfungsi disini, dan hubungan telpon TELKOM hanya bisa diperoleh di hotel atau wartel dekat pelabuhan. Saya juga sama sekali tidak melihat adanya pesawat TV di hotel Maulana atau mungkin juga dirumah rumah disekitar pulau. Esok pagi kami akan kembali menuju Pulau Ambon, dengan kapal kecil sama yang membawa kami kesini. Des Alwi menjelaskan, angin laut akan bertiup ke arah Ambon, sehingga perjalanan kembali akan lebih cepat 2 – 3 jam dibanding saat datang menuju Banda Neira. Hari terakhir kami menyeberangi pulau menuju perkebunan pala dan kenari. Perjalanan masuk menembus hutan pala sangat mengasyikan, udara segar dan suara burung kakak tua terdengar di kejauhan. Pemandu kami sesekali menunjukan pohon berusia ratusan tahun, yang menjadi saksi sejarah perdagangan rempah rempah.
Sore ini kami kembali menyempatkan menyelam di dermaga hotel, yang dipenuhi oleh ikan ikan Mandarin berwarna corak kemerahan. Sementara anak anak Banda Neira tampak riang gembira berenang dan bermain di tepi dermaga, suatu ritual kehidupan yang dialami juga oleh Des Alwi dan teman temannya semasa kecil puluhan tahun yang lalu.. Celoteh riang mereka terus terngiang ngiang kembali ke telinga saya, diatas pesawat terbang yang membawa kami kembali ke Jakarta. Biarlah Banda tetap menjadi apa adanya, sebagaimana mereka masih bisa bertahan selama ratusan tahun.












