widgets
Untuk lebih Detil Klik >> Penawaran Produk dan Jasa

Banda Kini Lampau dan Mendatang

Banda Naira, Warisan Kolonial di Tengah Surga Tropis Hampir seluruh wilayah Banda merupakan surga bawah air. Banyak orang ternama di jagat ini menyambanginya. Kapan giliran Anda? Setelah menempuh satu jam penerbangan dari Ambon, pesawat Nomad TNI AL yang kami tumpangi mendarat mulus di landasan kecil bandara Banda Naira yang menghadap langsung ke Gunung Api Banda. Gugusan Kepulauan Banda terletak 160 kilometer sebelah tenggara Kota Ambon. Pulau Banda Naira atau Banda Kecil hanya berukuran 2x3 kilometer, dan dilindungi Pulau Banda Besar dan Pulau Gunung Api Banda dari terpaan ombak laut Banda. Kini tak banyak turis yang rela jauh-jauh datang ke Banda. Awal tahun 1999 pulau itu sempat terkena imbas kerusuhan sektarian di Ambon. Beda dengan Charles S Grobe, pensiunan tentara Amerika Serikat (AS) yang berpuluh tahun dinas keliling dunia dan mengunjungi berbagai tempat wisata eksotis untuk menyelam. ''Saya merasa perlu untuk selalukembali ke Banda,'' kata Grobe ketika berbincang menghabiskan malam dengan Republika di sebuah hotel kecil di Banda Naira, Maulana Inn, November lalu. Rekan-rekannya di AS menganggap Grobe gila berani datang ke Indonesia yang dikenal penuh kerusuhan, tsunami, dangempa bumi. Situs penyelaman www.diveglobal.com pun menulis peringatan tentang Banda. Walau pemandangan bawah airnya luar biasa namun tak ada peralatan selam yang memadai. Artinya, seseorang tak mungkin menyelam dengan aman. Tentu saja, Grobe tak peduli soal ini. Buktinya, ia selalu kembali, dan kembali ke Banda. Ketika kami dijamu oleh Des Alwi, tokoh pejuang nasional dan 'pemilik' Banda, Grobe baru menyadari betapa Banda masih 'berbahaya'. Setelah memamerkan film dokumenter perang melawan Belanda, Des memutar dokumentasimeletusnya Gunung Api Banda pada tahun 1988. Kerucut yang menyembul di laut setinggi 676 meter itu hanya dipisahkan selat kecil tak sampai 400 meter dari hotel kami. ''Apa? Itu bukan yang di Jawa Tengah (Merapi)? Itu di sini? Ya Tuhan,'' kata pria keturunan Yahudi itu menggeleng-geleng, baru sadar Gunung Api Banda masih aktif hingga kini. Jejak sejarah BandaPada tahun 1936, Bung Hatta dan Sjahrir menjalani masa pembuangan di pulau yang sangat terkenal sebagai penghasil buah pala terbesar di dunia ini. Harumnya rempah-rempah itulah yang mendorong bangsa Eropa datang untuk menjajah negeri ini. Karena hanya kunjungan singkat, saya hanya sempat jalan kaki berkeliling menikmati aroma sejarah perebutan pala di Banda Naira. Belum lima menit berjalan dari Maulana Inn, kami segera disapa berbagai arsitektur bergaya kolonial. Salah satunya rumah tinggal Syahrir dan dr Cipto Mangunkusumo. Selain mesin ketik, lukisan, fotofoto, dan catatan peninggalan Sjahrir, ada gramafon pemutar piringan hitam. ''Sjahrir sangat suka musik klasik,'' tutur Des Alwi.Sekitar 100 meter dari rumah Sjahrir, ada gereja tua peninggalan Belanda yang belum selesai direnovasi pascakerusuhan. Di belakang rumah-rumah penduduk menyembul reruntuhan Benteng Nassau yang dulu menjadi kawasan pertahanan Belanda. Benteng ini terletak persis di tepi pantai untuk mengawasi kapal-kapal yang masuk dari arah barat melewati celah antara Pulau Gunung Api dengan Pulau Banda Besar. Benteng Nassau ditinggalkan Belanda karena penduduk setempat justru menyerang dari arah bukit. Pada tahun 1602- 1611, dibangun Benteng Belgica berbentuk segilima di atas bukit. Dari benteng inilah Belanda benar-benar mampu mengawasi seluruh kepulauan Banda. Memandang laut dan mentari terbenam dari atas Belgica, benar-benar seperti Johny Depp dalam Pirates of the Caribbean Sea.Di pinggir pantai di bawah bukit Benteng Belgica terdapat Tugu Rante, monumen pembantaian ratusan orang termasuk 44 saudagar dan bangsawan Banda pada 1628. Para penentang Belanda itu dihukum mati dengan tubuh dipotongpotong pedang para ronin, samurai Jepang tak bertuan yang dibawa oleh Jan Pieterzoon Coen. Itulah asal mula Tari Cakalele, mengumpulkan bagian-bagian tubuh para syuhada untuk dimakamkan secara Islam. Ke arah selatan, ada Istana Mini. Ini adalah bekas markas pemerintahan Belanda yang memiliki halaman luas, berpohon rindang, menghadap selat dan Pulau Banda Besar. Tak jauh dari situ, ada rumah Bung Hatta yangberdampingan dengan penjara Banda. Barang peninggalan Bung Hatta dipajang utuh di sana seperti jas, sepatu, kacamata, tempat tidur, mebel antik dari Jawa, dan bangku-bangku untuk mengajar anak-anak Banda. Yah, selesailah pelajaran singkat sejarah Banda Naira. Kalau belum lelah, sewa saja perahu menyeberang ke Banda Besar menikmati rerimbunan 50 ribu pohon pala dan 10 ribu pohon kenari dengan ditingkahi kicau Kakatua Banda. Kalau sedang musim, durian kecil Banda dapat dipetik dengan mudah dari pohonnya yang pendek. Masih punya energijuga untuk berjalan? Silakan mendaki Gunung Api Banda, hanya butuh waktu satu jam. Generated: 2 May, 2008, 19:46Paling nikmat, bersantai di beranda Maulana Inn atau Laguna Inn yang rindang, memandang Gunung Api Banda, dan ikan-ikan di dermaga yang jernih sambil menikmati es limau Banda. Sebagai camilan, tersedia roti kelapa dan kenari yang rasanya tak kalah legit dibanding roti buatan bakery kota besar. Kalau Anda penyuka hidangan dari ikan, nikmatilah sashimi, daging ikan tuna atau tenggiri segar dengan atau tanpa saus shoyu, sama-sama enak. Masih belum cukup? Ada sup ikan kakap dan ikan kue goreng. Semua dimasak dengan pala, asli Banda.Pala ditukar Manhattan Selain sebagai penyedap masakan, rempah-rempah juga dipakai sebagai pengawet. Komoditi utama dunia pada abad ke-16 hingga 18 ini telah memecah wilayah Nusantara menjadi bagian jajahan Portugis, Inggris, dan Belanda. Di abad ke-17, Pulau Rhun, pulau kecil di Banda yang kaya kebun pala adalah wilayah jajahan Inggris pertama di luar kawasan Britania Raya (Inggris, Skotlandia, dan Irlandia). Namun sebagian besar wilayah Maluku telah dikuasai Belanda. Keberadaan Inggris di salah satu dari sembilan pulau di Banda itu dianggap mengganggu dominasi Belanda. Perjanjian Westminster pada November 1674 mengakhiri persaingan rempah-rempah itu. Demi menggenapi monopoli pala, Belanda pun menukar jajahannya di daratan Amerika, Nieuw Amsterdam, dengan pulau Rhun milik Inggris. Nieuw Amsterdam, salah satu permukiman kulit putih terbesar di daratan Amerika saat itu, merupakan cikal bakal kawasanManhattan, jantung kota New York. Kini, Manhattan merupakan pusat perdagangan dunia dengan transaksi ratusan miliar dolar AS per jamnya. Sementara Pulau Rhun tetap sebagai penghasil Pala yang terpencil. Kepada setiap turis, terutama dari AS, Des Alwi selalu menceritakan tragedi konyol ini. ''Tahukah Anda, dulu pulau ini ditukar dengan Manhattan. Bisakah kami menukarnya lagi?'' pinta Des. Walau begitu, Banda tetap memiliki kekayaan yang membanggakan, yakni alam dan warisan sejarahnya. Auranya seperti tak pernah beranjak dari zaman kolonial, benteng, dan bangunan kuno yang terjaga hingga kini. Kearifan Banda telah menjaga taman-taman lautnya menjadi salah satu tempat penyelaman terbaik di dunia. Hampir seluruh wilayah Banda adalah surga bawah air. Bahkan di dermaga Maulana Inn. Pesona Banda menarik banyak tokoh dunia untuk menyambanginya. Dari penyelam legendaris Prancis, almarhum Jacques Costeau yang fotonya dipajang di Maulana Inn, Princess of York Sarah Fergusson, juga rocker Mick Jagger. Bahkan sutradara film Apocalypse Now, Francis Ford Coppola, ikut terpesona keelokan dan sejarah Banda. Coppola ingin membuat film perang laut berlatar rebutan pala antara Inggris dan Belanda itu. Entah kenapa, rencana itu gagal. Bila Jerry Bruckheimer sudah bosan, sebaiknya dia membuat sekuel ketiga film Pirates of the Caribbean Sea di Banda saja dan kita beri judul The Curse of the Spice Island. Kutukan yang akan selalu memikat kita untuk kembali keBanda.

0 komentar:

Post a Comment

Tanggapannya Gan..?